Senin, 23 Juli 2012

DOKTRIN TRINITAS/TRITUNGGAL


DOKTRIN (KEBENARAN?)TRINITAS/ TRITUNGGAL[1]
I.                    Pendahuluan
Adalah kata ‘pengikut Al-Masih’ dalam kitab-kitab teologi menggambarkan tentang keyakinan Trinitas (Tuhan Bapa, Rahul Kudus, dan Yesus Kristus) dan permasalahan- permasalahan yang mendasar yang bersumber pada akidah mereka. Tidak adanya dalil dari para pengikut Masih atas keyakinan mereka, sementara mereka mengklaim diri mereka telah menyakini monoteisme, dengan pengertian satu dalam kemajemukan. Apakah kesatuan dalam pengertian ini, berhak ada pada zat Tuhan. Sementara independen (kemandirian) terlepas pada zat-Nya dan tidak bertentangan dengan argumentasi akal?
Konsep trinitas bersumber pada ajaran kitab Injil yang diragukan keasliannya, disebabkan bukanlah kitab ‘Samawi’ (bersumber pada wahyu Allah Swt), namun kitab injil tersebut ditulis dan disusun setelah Al-Masih diangkat oleh Allah atau setelah penyalibannya menurut perkiraan orang-orang nasrani. Dan masuknya konsep Trinitas pada agama Nasrani setelah kepergian Al-Masih dan para pengikutnya.
Seorang Yahudi yang bernama Paulus yang mengajarkan ajaran nasrani tersebut, dengan klaim bahwa Al-Masih telah menyatu dalam dirinya, dan ia berkewajiban menjalankan dakwah kepada seluruh masyarakat. Dia juga menyatakan bahwa Isa sebagai tebusan dosa manusia setelah penyalibannya. Adapun syariat, bukanlah suatu kewajiban bagi orang-orang selain Yahudi. Mr. Louis, seorang cendikiawan nasrani menyatakan: “Penjasadan adalah kata dari rahasia-rahasia Tuhan, yang akal tidak mampu untuk menalarnya. Namun tidaklah bertentangan dengan argumentasi akal.
Dan didalam Al-Qur’an Al-Karim telah menerangkan tentang akidah yang diselewengkan tersebut, Allah Swt berfiman:Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?
 makalah ini penulis akan mencoba mengupas tentang kebenaran doktrin trinitas atau tritunggal. Apakah doktrin tritunggal/ trinitas diajarkan dalam kitab perjanjian lama dan perjanjian baru?
Mengutip sekilas dari the encyclopedia of religion menuliskan: “para teolog dewasa ini setuju bahwa al Kitab Ibrani (perjanjian lama) tidak memuat doktrin tentang tritunggal.

II.                  Rumusan Masalah
a.  terkait dengan trinitas maka timbul pertanyaan siapa pelopor pertama kali trinitas (tritunggal),kapan dan dimana serta apa artinya?
b. apakah tritunggal diajarkan dalam perjanjian lama dan perjanjian baru?
c. bagaiamana respon qur’an (islam) terhadap trinitas (tritunggal) dan pengakuan kristiani terhadap yesus sebagai tuhan?
d. bagaimana contoh dialog kesaksian alkitab berkenaan dengan trinitas yang dilontarkan oleh orang- orang kristiani atau orang- orang non kristiani?

III.                Pembahasan
a.  terkait dengan trinitas maka timbul pertanyaan siapa pelopor pertama kali trinitas (tritunggal),kapan dan dimana serta apa artinya?
Istilah "Trinitas" pertama kali dicetuskan oleh Tertullian yang punya nama lengkap Quintus Septimius Florens Tertullianus (160-220 M). Tertullian adalah seorang apologet (hujjatul iman) yang berasal dari bangsa Berber yang adalah penduduk asli Afrika Utara, meliputi Libya, Tunisia, Algeria, dan Maroko. Tokoh modern bangsa Berber yang terkenal antara lain Zinedine Zidane (bintang sepak bola dunia).
Karena Tertullian adalah orang Berber dan bekerja sebagai pengacara atau yuri di pengadilan Kartage (Kartago), Afrika Utara, maka tentu saja, istilah "Trinitas" lahir di Kartage, Afrika Utara. Banyak orang nampaknya tidak pernah mengira bahwa istilah "Trinitas" lahir dari bangsa Berber di Kartage, Afrika Utara dan salah kira dengan mengira istilah "Trinitas" berasal dari Yunani.
Istilah Trinitas itu dimunculkan Tertullian sebagai salah satu cara berkomunikasi dengan audiensnya pada saat itu, mengingat hujjah (apologetika) tidak pernah lepas dari konteks sosial dan konteks theologis yang ada di sekitar si apologet (hujjatul iman). Tertullian menggunakan istilah "Trinitas" dalam makna Τρεις υποστάσεις, ομοουσιος 'Trīs hupostasīs homoūsios' 'Tiga Sifat, Satu Dzat' atau "3 esensi, satu substansi" untuk menjelaskan ke-Esa-an Tuhan, yaitu bahwa substansi (Dzat) Tuhan itu satu, satu Dzat Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki tiga sifat pokok (esensi). Penyederhanaan berlebihan terhadap konsep Tuhan tersebut nampaknya diperlukan untuk kondisi masyarakat yang dihadapi oleh Tertullianus. Namun, perlu kami katakan bahwa metode penjelasan tersebut tidak berlaku untuk segala konteks.
Konsep Tertullian tidak diterima oleh umat Al Masih Timur, meski istilah "Trinitas" itu sendiri tidak dipermasalahkan. Faktor penolakkannya nampaknya berada pada konteks: konteks umat Al Masih Timur berbeda dengan konteks yang dihadapi oleh Tertullian. Umat Al Masih Timur memahami ungkapan kias "Bapa, Anak, Dzat Sang Kudus" dalam makna: Allah, IlmuNya (esensiNya), dan Dzat-Nya (substansi-Nya) adalah satu Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti, makna istilah "Trinitas" bagi umat Al Masih Timur adalah bahwa Allah, IlmuNya, dan DzatNya bukanlah tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan saja, yaitu Allah yang bersubstansi Dzat dan yang beresensi (bersifat Dzatiyah) Ilmu.
Tertullian menggunakan istilah "Trinitas" pada sekitar tahun ±200 Masehi atau ±125 tahun (±1¼ abad) sebelum berlangsungnya konsili Nicea). Tertullian selaku pencetus istilah "Trinitas" itu sendiri tidak pernah menghadiri konsili Nicea, karena sudah wafat pada tahun 220 M (105 tahun sebelum konsili Nicea). [2]
Trinitas adalah sebuah doktrin yang hanya dikenal dalam teologi Kristen. Dalam teologi Kristen difahami hanya ada satu Allah. Tapi dalam satu hakikat Allah tersebut terdapat tiga pribadi yang sama kekal dan sepadan. Namun berbeda dalam pribadi.[3]
Dalam perjanjian baru ditemukan bukti adanya anak & roh kudus yang memiliki kualitas keillahian yang sama dengan bapa. 3 pribadi illahi yang berdampingan & saling menguatkan satu sama lain dalam satu hakikat Allah yang esa. Doktrin trinitas tidak berhenti dengan adanya 3 pribadi illahi tetapi berakhir pada ke esaan dari ketiga pribadi illahi tapi berakhir pada ke esaan dari ketiga pribadi illahi dalam hakikat Allah.
”percayalah kepadaku bahwa Aku di dalam bapa dan bapa di dalam Aku”. (Yohanes, 14:11)
Meski demikian tidak ditemukan secara langsung yang menyatakan bahwa “Allah adalah yesus” atau “Allah adalah Ruh Kudus”. Yang ada hanyalah Tuhan dalam diri Yesus.[4]
b. apakah tritunggal diajarkan dalam perjanjian lama dan perjanjian baru?
The Encyclopedia of Religion menuliskan: “para teolog dewasa ini setuju bahwa Alkitab Ibrani (perjanjian lama) tidak memuat doktrin tentang Tritunggal”.
New Catholic Encyclopedia mengakui: Doktrin Tritunggal tidak diajarkan dalam perjanjian lama”.
Imam Jesuit Edmund Fortman dalam bukunya The Triune God juga mengakui: “perjanjian lama…tidak secara tegas ataupun samar-samar memberi tahu kepada kita mengenai Allah Tiga Serangkai yang adalah Allah, Anak dan Roh Kudus…bahkan mencari di dalam “perjanjian lama” keasan-kesan atau gambaran  di muka atau “tanda-tanda terselubung’ mengenai Trinitas dari pribadi-pribadi, berarti melampaui kata-kata dan tujuan dari para penulis tulisan-tulisan suci”
Bernhard lohse dalam A short History of Christian Doctrine menegaskan: sejauh ini menyangkut perjanjian baru, seseorang tidak menemukan di dalamnya doktrin Tritunggal yang actual”.
Professor E. Washburn Hopkins dari Universitas Yale menekankan: “bagi yesus dan paulus doktrin tritunggal jelas tidak dikenal;… mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai itu”. (Origin and Evolution of Relegion).
Sejarawan Arthur Weigall menyatakan: “ yesus kristus tidak pernah menyebutkan perwujudan demikian, dan di manapun dalam perjanjian baru tidak terdapat kata ‘Tritunggal’. Gagasannya baru diterima oleh gereja tiga ratus tahun setelah kematian Tuan kita”. (The Paganism in Our Christianity).
Jadi, dari ke-39 kitab ibrani perjanjian lama, maupun ke-27 kitab Yunani Kristen Perjanjian Baru, seluruh pasal dan ayat- ayat Alkitab sama sekali tidak ada yang memuat ajaran yang jelas mengenai Doktrin Tritunggal/Trinitas![5]
c. bagaiamana respon qur’an (islam) terhadap trinitas (tritunggal) dan pengakuan kristiani terhadap yesus sebagai tuhan?
Tanggapan Al- Qur’an terhadap trinitas
Q.S Al- Maidah : 17
17. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?". kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sesungguh ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa as. Dari Tuhannya adalah Tauhid yang juga dibawa oleh semua rasul. Aqidah tauhid masih terus hidup sepeninggal al-Masih as. Di kalangan murid- murid & pengikutnya. Salah satu injil dari sekian injil yang banyak yaitu injil bernabas yang menceritakan tentang Nabi Isa & mensifatinya sebagai Rasul Allah. Kemudian terjadi perselisihan diantara mereka. Sebagian mengatakan bahwa Isa al –Masih adalah Rasul seperti halnya Rasul- rasul lain. Tapi sebagian lain mengatakan bahwa dia adalah putra Allah kareana dia tidak berayah tapi tetap juga sebagai makhluk Allah. Dan sebagian lagi menyatakan bahwa al- Masih adalah putra Allah, bukan makhluk & dia memiliki sifat Qadim “maha dahulu” sebagaimana bapa
                Ayat 17 tersebut secara jelas membedakan dzat Allah yang maha suci tabi’at, kehendak & kekuasaan-Nya. Dengan dzat Isa 4 dzat ibunya. Allah yang Mahasuci adalah Esa dan segala sesuatu selainnya adalah makhluk. Demikianlah tampak jelas aqidah islam manakala dibandingkan dengan kepercayaan segolongan ahli kitab.
Pada ayat 18 mereka beranggapan bahwa Allah mempunyai hubungan kebapakan dalam suatu bentuk kebapakan walau bukan secara fisik maka bisa saja secara ruhani. Bagaimanapun bentuk kebapakan yang mereka maksud, maka hal itu menodai aqidah tauhid & mengaburkan perbedaan yang pasti antara uluhiyah dan ubudiyah.
Orang- orang Yahudi dan Nasrani mengaku sebagai anak-anak Allah dan kekasih-kekasinya, sehingga Allah tidak akan menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka dan mereka tidak tidak akan masuk nereka kecuali sebentar saja. Padahal Allah adalah Tuhan yang Maha adil.[6]
Q.S al- Maidah :72-73
72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
73. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.
Sesungguhnya siapapun yang mensyari’atkan Allah dengan sesuatu baik itu malaikat, manusia, bintang atau mereka menganggap sesuatu yang ia seru itu dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya atau dia menjadikan sekutu itu sebagai sebagai pembawa syafaat yang dapat mempengaruhi irodah & ilmu Allah dan menyebabkan Allah melakukan sesuatu di luar yang sudah dia ketahui sebelumnya. Allah benar- benar telah mengharamkan mereka masuk surge.
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang menyatakan bahwa Allah merupakn salah satu dari 3 oknum. Bapak yaitu pelahir yang diperkenankan, anak yang tidak diperkenankan bukan pelahir dan istri yang diikutkan antara keduanya.
Ada tiga faham yang berbeda di kalangan Nasrani :
1.       Bahwa Tuhan adalah salah satu dari 3 oknum
2.       Bahwa Allah adalah al-Masih Putra Maryam
3.       Bahwa al-Masih adalah anak Allah bukan Allah
Apabila mereka tidak berhenti meninggalkan perkataan ereka tentang Allah adalah salah satu dari 3 oknum dan tidak segera kembali pada tali Tauhid, maka mereka pasti ditimpa siksaan hebat pada hari kiamat kelak.[7]
Karena Firman-Nya Allah, yaitu Ilmu-Nya Allah atau Akal-Budi Allah itu pasti dikandung dalam Dzat Hakekat Allah sendiri, berarti jika itu dinyatakan atau diucapkan keluar dari Allah, maka seolah-olah dilahirkan sebagai Anak dari Pikiran Allah tadi, padahal keluar-Nya dari Allah itu tanpa awal maupun akhir secara kekal. Itulah sebabnya Firman Allah disebut Anak Allah yang kekal. Meskipun Allah itu secara biologis tak beranak maupun diperanakkan. Ini disebabkan, karena Allah sebagai asal-usul dan tempat beradanya Firman itu disebut Bapa. Sedangkan Roh Allah - yaitu prinsip kehidupan dan kuasa Allah - yang ada di dalam hakekat Allah yang satu bersama Firman itu disebut Roh Kudus.
Jadi dalam Iman Kristen, Roh Kudus bukanlah nama malaikat Jibril, namun Roh Allah sendiri. Malaikat Jibril adalah ciptaan dari Roh Kudus ini juga, sebab malaikat Jibril itu diberi hidup oleh Allah melalui rohNyainijugasebagaimanamakhluk-makhluklainnya.
Karena Allah itu Esa, yaitu Bapa tadi, maka haruslah memang Firman-Nya (Anak) itu berasal dari dan berdiam di dalam Allah yang Esa, yaitu Bapa ini. Demikian pula Roh-Nya pun harus keluar dari dan berdiam dalam Bapa yang Esa ini. Dengan demikian Keesaan Allah terjaga. Karena memang Allah itu Satu, Esa, tiada tandingan atau sekutu bagi-Nya. Jadi Tritunggal Maha Kudus adalah Allah yang Esa (Sang Bapa) yang memiliki dalam Dzat-Hakekat-Nya yang Esa Firman yang kekal (Anak) dan Roh yang kekal (Roh Kudus) yang melekat satu di dalam diri-Nya yang Esa itu. Jadi istilah Tritunggal itu bukan mengenai jumlah Allah, namun mengenai keberadaan di dalam diri Allah yang Esa tiada berbilang, dan satu tiada bandinganitu.
Iman Kristen tidak percaya adanya allah yang lebih dari satu karena Allah itu Esa menurut Alkitab. Jadi Tritunggal bukanlah tiga ilah seperti yang dikatakan dalam ayat Al~Qur'an berikut ini:
171. Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu[383], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya[384] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[385]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara.
[383] Maksudnya: janganlah kamu mengatakan Nabi Isa a.s. itu Allah, sebagai yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani.
[384] Maksudnya: membenarkan kedatangan seorang Nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak Yaitu Nabi Isa a.s.
[385] Disebut tiupan dari Allah karena tiupan itu berasal dari perintah Allah.
Tritunggal adalah Allah Yang Esa itu sendiri yang dalam Dzat-Hakekat-Nya memiliki Kalimat dan Ruh yang kekal tanpa awal maupun akhir. Dan bukan pula Allah itu "salah seorang dari yang tiga" atau "yang ketiga daripada yang tiga" seperti yang dikatakan dalam ayat Al~Qur'an di bawah ini, karena Allah itu hanya satu-satunya dan yang pertama dalam diri-Nya yang Esa yang memiliki Kalimat dan Roh kekal;

” 73. Sesungguhnya kafirlah orang- orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih “. (al Qur’an al Maidah :73)[8]
d. bagaimana contoh dialog kesaksian alkitab berkenaan dengan trinitas yang dilontarkan oleh orang- orang kristiani atau orang- orang non kristiani?
Yohanes 1 : 1
“ pada mulanya adalah firman; firman itu bersama- sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah”
Klaim Trinitarian : pada frase terakhir ayat ini menyatakan bahwa firman {yang mengacu pada yesus} itu adalah Allah. Bukankah itu berarti Yesus sama dengan Allah?
Jawab: Istilah kata “Allah/allah” dalam Alkitab merupakan padanan kata elohiym (Ibrani), theos (yunani),  God (inggris). Sebagai catatan: dalam bahasa Ibrani [teks asli kitab, perjanjian lama] tidak ada pembedaan huruf besar- kecil. Jadi Allah dan allah sama saja, tidak ada bedanya. Istilah “allah” [elohiym/ theos] dalam Alkitab bisa berarti dua macam makna.[9]
Menurut Prof. Dr. M.M al-A’zami, mengutip dari pendeta Great St. Mary, Cambridge, pada konferensi the Modern Churchmen di Oxford, 1967, Canon Hugh Montefiore, berbicara tentang yesus. Isinya ;”weimer menyiitir satu nukilan dari Table-Talk di mana Luther menyatakan bahwa kristus berzina tiga kali, pertama dengan perempuan di sumur, kedua dengan Mary Magdalena, dan ketiga dengan perempuan yang diambil dari perzinaan, “yang dia lepaskan begitu saja. Dengan demikian, kristus yang begitu suci telah berzian sebelum meninggal.” “
Dalam Matius 26
20-21 sementara yesus makan [hidangan paskah] bersama dengan dua belas muridnya petang itu, dia berkata, “seorang dari kalian akan menyerahkan aku kepada musuh-musuhku.”[10]
Sekilas wacana yang sang menggelitik tentang moral seorang tuhan yang serupa dengan sifat manusia.



IV.                kesimpulan
dapat kami simpulkan bahwa faham Trinitas yang selama ini dipercaya oleh kebanyakan orang-orang Nasrani bawa yesus adalah Tuhan. Setelah melakukan tela’ah dengan merujuk hujjah al- Qur’an maupun kitab injil dan meminjam pemikiran-pemikiran dari beberapa pastur, kesimpulannya bahwa yesus bukan Tuhan tapi di dalam diri yesus bersemayam ruh bapak (itu dilihat dari kitab injil yang sudah rekonstruksi mereka), ”percayalah kepadaku bahwa Aku di dalam bapa dan bapa di dalam Aku”. (Yohanes, 14:11)
Penutup
Sekian yang dapat pemakalah sampaikan sedikit uraian mengenai Trinitas dalam bentuk makalah yang sederhana. Harapan pemakalah semoga memberikan pencerahan buat para pembaca khususnya penulis pribadi. Besar harapan saya agar diberikan kritik yang membangun, untuk kesempurnaan tulisan selanjutnya. Kemudian salah dan khilaf dalam isi makalah ini, kami aturkan maaf dan ada manfaatnya semata-mata semua hidayah dari sang maha sempurna (Allah swt). Salam

V.                  Daftar Pustaka
Hasyim Muhammad. Kristologi Qur’ani. ( Pustaka Pelajar: Jakarta, 2005)
Ahmad Mustafa al-Maragy. Terjemah Tafsir al-Mumaragy Vol. VI. (Toha Putra: Semarang, 1987)
Sayyid Kutub. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Vol. 5. (Gema insane Press: Jakarta. 2002)
Donald Frans. Menjawab Doktrin Tritunggal. (Borobudur Indonesia Publishing: ---------.2008)
http:///www. trinitas/trinitas-siapa-kapan-dimana-terkait.html
Al- A’zami, M, M( diterjemahkan; solihin, sohirin, dkk). The Historis of The Qur’anic Text. (Gema insane; Jakarta. 2005)



[1] Makalah yang dibuat oleh Lutfiyah(084211019) dan M. Siswoyo, AS(084211020) semester VI, jurusan Tafsir Hadis untuk memenuhi tugas mata kuliah Nushus Qur’an,  dengan dosen pengampu bapak Mundhir, M.Ag.
[2] http:///www. trinitas/trinitas-siapa-kapan-dimana-terkait.html
[3] Hasyim Muhammad. Kristologi Qur’ani. ( Pustaka Pelajar: Jakarta, 2005).hal.125
[4] Ibid,hal.126-130
[5] Donald Frans. Menjawab Doktrin Tritunggal. (Borobudur Indonesia Publishing: ---------.2008)hal. XIX-XXII

[6] Sayyid Kutub. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Vol. 5. (Gema insane Press: Jakarta. 2002).hal.301-305

[7] Ahmad Mustafa al-Maragy. Terjemah Tafsir al-Mumaragy Vol. VI. (Toha Putra: Semarang, 1987).hal. 197-297

[8] http:///www. trinitas/doktrin-trinitas-vt19.html

[9] Donald Frans.Opcit.hal. 1-2
[10] Al- A’zami, M, M( diterjemahkan; solihin, sohirin, dkk). The Historis of The Qur’anic Text. (Gema insane; Jakarta. 2005).hal. 299-300

METODE SYARAH HADITS WASITH

METODE SYARAH HADIS WASITH


MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah:  Bashul Kutub Syarah Hadits
Dosen Pengampu: Bapak Ahmad Musyafiq, M.Ag











Disusun oleh:
Rohmat Waluyo                    084211024
Fadliyah                                 094211010
M. Siswoyo As                      084211020



FAKULTAS  USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
METODE SYARAH HADIS WASITH

I.       PENDAHULUAN
Metode merupakan salah satu ciri pokok yang membedakan ilmu dari pengetahuan biasa, setiap metode memiliki andil yang sangat besar dalam mempengaruhi naik turunnya perkembangan dan pengembangan ilmu tertentu, begitu juga dengan metode syarah hadis ini, yang merupakan hasil ijtihad ulama dalam memahami hukum islam yang kedua yakni hadis.
Syarah hadis sebagaimana tafsir Al-Qur’an adalah hasil ijtihad ulama memahami hadis sebagaimana mufassir berupaya memahami Al-Qur’an. Berbagai metode dan pendekatan dilakukan ulama untuk memahami sumber ajaran Islam yang kedua ini, hanya saja sedikit sekali masyarakat yang mengenali apalagi mempelajarinya. Tulisandalam makalah  berikut ini sedikit menggugah betapa kayanya hazanah penafsiran ulama terhadap hadis-hadis nabi Saw yang telah terhimpun di dalam beberapa kitab hadis, baik yang bersifat rinci (tafshîli), keterangan secukupnya (wasîthi) hingga yang paling ringkas (wajîz). Dalam pembahasan kali ini pemakalah akan mencoba menjelaskan secara sederhana sebagaimana tema tugas kami yang berhubungan dengan syarah hadis terutama (Wajiz).
Metode syarah hadis dalam perkembangannya memiliki beberapa model dimana pada model atau metode tersebut memiliki karakter serta desain tersendiri, diantara metode tersebut yakni metode syarah hdis wasith (penjelasan sederhana) yang mana seorang guru membacakan hadis nabi saw kemudian dikuti beberapa penjelasan oleh yang membacakan atau guru, untuk memahi lebih lanjut kami akan mencoba untuk menjelaskannya.
II.    RUMUSAN MASALAH
A.    Pengertian Syarah Wasith
B.     Unsur-unsur syarah hadis wasith
C.     Kelebihan dan kekurangan syarah hadis wasith
D.    Contoh kitab syarah metode wasith
III. Pembahasan
A.    Pengertian metode Syarah Hadis Wasith
Metode berasal dari bahasa Yunani Methodos yang berarti cara penyelidikan, cara melaksanakan sesuatu atau cara mencapai pengetahuan, sedangkan metode secara istilah merupakan cara sekaligus alat untuk memahami sesuatu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, semakin kecil kekurangannya semakin tepat dalam memahaminya, begitu juga sebaliknya semakin banyak kekurangannya semakin jauh pula pemahaman yang diperoleh.[1]
Asy  syarah Al wasith (penjelasan sederhana) jadi, metode syarah wasith dapat kita artikan merupakan salah satu metode dimana seorang guru membacakan hadis nabi saw, kemudian dikuti beberpa penjelasan secukupnya tentang lafadz yang asing( Gharib ) dan susunan kalimat yang terkait, selanjutnya memberikan wacana pemikiran yang ringkas tentang diterima atau ditolaknya (maqbul mardudnya) rijal dari isnad yang ada, baru kemudian ia menjelaskan secara global beberapa faedah atau manfaat hadis tersebut baik sanadnya maupun matannya apabila hal itu dikehendaki untuk sekedar membantu bilamana murid masih menghadapi hal-hal yang musykil atau kesulitan-kesulitan yang tampak pada nash dengan menggunakan penjelasan-penjelasan yang telah ada sebelumnya dan telah dipegangi (dijadikan hujjah) oleh ulama’ pada umumnya.[2]
Ajjaaj al Khatib dengan mengutip pendapat imam Ahmad mensyaratkan orang yang membaca (qari’) mengetahui dan memahami apa yang dibaca, sementara syarat bagi syeikh dengan mengutip pendapat imam kharamain hendaknya yang ahli dan teliti ketika mendengar atau menyimak dari apa yang dibacakan oleh qari’ sehinggah tahrif maupun tashif dapat terhindarkan.[3]
Perlu diketahui adanya gharib dalam suatu hadis disebabkan
1.      Hanya diriwayatkan seorang Rawi.
2.      Disebabkan adanya penambahan dalam matan atau sanad.[4]
B.     Unsur-unsur Syarah hadis wasith
Syarah wasith didalam penyusunannya setidaknya harus memiliki            beberapa unsur sehingga ketika dia memiliki unsur tersebut  dia dapat dikategorikan syarah hadis dengan metode wasith, diantara unsur-unsur tersebut ialah;

1.      Tasykil
Tasykil yakni pemberian tanda baca berupa pemberian harakat secara langsung ataupun tidak langsung, yaitu penjelasan lewat keterangan oleh penulis yang terdapat setelah sanad dan juga matan yang ditulis awalan.
2.      Mufrad
Mufrad yakni penjelasan kosa kata yang digunakan dalam sebuah hadis yang terdapat dalam kitab-kitab hadis.
3.      Penilaian
Penulis syarah akan memberikan penilaian terhadap rangkaian sanad dan matan sebuah hadis, disini penulis menjelaskan kedudukan seorang rawi satu dengan yang lainnya dan memberikan penilaian terhadap rawi-rawi yang ada juga para pensyarah yang tidak menjelaskan secara detail tentang penilaian seorang rawi, hanya menjelaskan beberapa atau salah satu rawi yang dianggap penting untuk dijelaskan kemudian menjelaskan tentang matan dari hadis tersebut, biasanya dengan menjelaskan, membandingkan dengan hadis-hadis yang senada dengan hadis tersebut sehingga akan mendapat kesimpulan mengenai kwalitas sebuah hadis.
4.      Pendapat
Dalam sebuah kitab syarah wasith terdapat beberapa pendapat dari para ulama’ terdahulu yang menilai hadis tersebut.
5.      Penjelasan kata-kata gharib
Dalam pensyarahan kitab-kitab hadis ada yang menerangkan kata-kata gharib yakni kata-kata yang tidak lazim digunakan dalam bahasa arab atau sukar dimengerti atau jarang digunakan (asing) sehingga penjelasan ini dianggap perlu agartidak terjadi penafsiran yang menyimpang dari maksud kandungan hadis tersebut.
6.      Tarjih
Setelah melakukan penilaian terhadap para rawi dan matan para pensyarah hadis biasanya akan mentarjih, yaitu memenagkan salah satu pendapat dari para ulama’ yang paling kuat.
Umumnya syarah hadis Wasith, sedangkan dalam menganalisa metode pensyarahan, dibawah ini kami hasil kami paparkan matan kitab syarah yang ada sesuai dengan klasifikasi metode syarah hadits:
a.       Pada klasifiksi bunyi lafaz (harf wa syakl)
b.      Penjelasan kaedah bahasa (nahw wa sharf)
c.       Penjelasan arti kamus (ma’na lughawi)
d.      Penjelasan arti istilah atau maksut (ma’na Ishthilahi)[5]
C.    Kelebihan dan kekurangan metode wasith
Setiap metode pasti mempunyai keunggulan serta kelebihannya sendiri-sendiri begitu
Pula dengan metode syarah hadis wasith, diantara kelebihan metode syarah hadis wasith adalah:
Metode syarah hadis wasith lebih jelas dibandingkan dengan metode syarah hadis wajiz karena pada metode ini terdapat penjelasan kata-kata gharib serta adanya tarjih.
Penjelasannya tidak bertele-tele
Cara ini lebih mudah dibandingkan dengan syarah at tafsili.[6]
Sedangkan kekurangan dari metode ini adalah:
Tidak adanya istinbat
Pendapat yang dikemukakan masih terbatas.
D.    Contoh kitab syarah wasith
Beberapa kitab dibawah ini merupakan kitab yang menggunakan metode pensyarahan wasith.
Tuhfa al ahwadzi syarh jami’ at turmudzi karya Abu ali Muhammad abdirrahman bin abdirrahim al Mubarak turi(1283-1353)
Ibanah al Ahkam bi syarah bulugh al maram karya Alwi Abbas al maliki dan hasan sulaiman an Nawawi.[7]
Kemudian diantara contoh kitab yang menggunakan pisau wasith adalah kitab Nail Al-Authar karya Imam Al-Syaukani. Kitab ini disusun oleh Abu al-Barakat Majdudin Abdussalam Ibn Abdillah ibn Abi al-Qasim ibn Muhammad, yang dikenal dengan “Ibnu Taimiyah”. Kitab disusun berdasarkan sejumlah metode khusus oleh pengarangnya:
1.)    Menghimpun hadits ahkam
2.)    Meringkas dari kutub sunan tujuh
3.)    Jarang melampaui dari kutub sab’ah
4.)    Meringkas hadits marfu’
5.)    Menyandarkan hadits dengan tema fiqih, menuturkan kitab
6.)    Menyatakan hadits dengan takhrij dari para imamnya
7.)    Tidak membicarakan derajat hadits dari shahih, dlaif, atau lainnya kecuali dibicarakan salah seorang imam yang kemudian dinukilkannya.[8]
IV. KESIMPULAN
Metode syarah wasith merupakan salah satu metode yang digunakan dalam mensyarahi hadis, metode ini tegolong metode sederhana karaena pada metode ini guru hanya membacakan hadis nabi saw kemudian diikuti beberapa penjelasan secukupnya.
Syarah wasith memiliki beberapa unsur dimana unsur tersebut sangat mempunyai  posisi yang  penting karena dengan adanya unsur ini metode wasith dapat dibedakan dengan metode yang lainnya, unsur-unsur tersebut yakni: tasykil, mufrad, penilaian, pendapat, penjelasan kata-kata gharib,tarjih.
Kelebihan metode syarah hadis wasith; metode syarah hadis wasith ini lebih jelas, tidak bertele-tele, lebih mudah, sedangkan kekurangannya adalah tidak adanya istinbat, pendapat yang dikemukakan terbatas.
Contoh kitab yang menggunakan metode syarah wasith adalah Tuhfa al ahfadzi syarh jami’ at turmudzi, ibanah al ahkam bi syarh bulugh al maram.
V.    PENUTUP
Demikianlah catatan yang dapat kami urai dalam makalah ini, kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan, semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita dan dapat bermanfaat bagi kita semua.



DAFTAR PUSTAKA
Jurnal teologia, vol 19 No 1 Januari 2008 hal 340
Suryadi, Metodologi Ilmu Rijal  Hadis, Yogyakarta: Madani Pustaka, 2003.
Ulama’i, Hasan Asy’ari,  Metode Tematik Memahami Hadis Nabi SAW, Semarang: IAIN Walisongo, 2008.


[1] Suryadi, Metodologi Ilmu Rijal  Hadis, Yogyakarta: Madani Pustaka, 2003
[2] Jurnal teologia, vol 19 No 1 Januari 2008 hal 340
[3] Hasan Asy’ari Ulama’I,  Metode Tematik Memahami Hadis Nabi SAW, Semarang: IAIN Walisongo, 2008, hal 66
[4] Op cit hal 341
[5] A. Hasan asy’ari Ulama’I, Sejarah  dan tipologi Syarah Hadits, teologi, volume 19, Nomor 2, juli 2008.
[6] Hasan Asy’ari Ulama’I, Jurnal teologia vol 19 No 2 juli 150
[7] Op cit hal126
[8]  Di  kutip dari makalah saudara M.faizun dan Siti Khomsiyatun, Nailul Athar (selasa, 2o.12.2011) hal. 3-4